Media Online Sebagai Pemenuh Kebutuhan Informasi yang Tepat Bukan yang Cepat
Jurnal Indonesia Sosial Sains, Vol. 3, No. 12, Desember 2022
1667
penyimpanannya. Oleh karena itulah, saat ini informasi dapat diperoleh dimana saja, kapan
saja, dan dalam semua kondisi atau suasana. Ditambah saat ini dalam dunia ke-jurnalistikan,
media online (internet) merupakan media yang paling vital dalam penyampaian dna
penyebaran informasi.
Media online (online media) – yang disebut juga sebagai cybermedia (media siber),
internet media (media internet), new media (media baru)–dapat diartikan sebagai media yang
tersaji dalam dalam bentuk internet atau tersaji secara online di situs web (website). Media
online bisa dikatakan sebagai media generasi ketiga setelah media cetak (Koran, tabloid,
majalah, buku, dan sejenisnya) dan media elektronik (radio, televise, film/video, dan
sejenisnya).
Media online merupakan produk dari jurnalistik online atau yang disebut sebagai cyber
journalism yang didefinisikan sebagai proses penyampaian atau pelaporan fakta/peristiwa yang
diproduksi dan didistribusikan melalui internet/secara online (Wikipedia).
Dalam perspektif studi media massa atau komunikasi massa, media online itu menjadi
obyek kajian teori media baru (new media), yang berarti istilah yang mengacu pada permintaan
akses ke kontennya (isi/informasi) bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja serta dalam
kondisi atau di semua suasana. Hal ini dilakukan pada setiap perangkat digital serta umpan
balik pengguna yang interaktif, partisipasi yang kreatif, serta pembentukan komunitas sekitar
konten media, dan bisa juga pada aspek generasi “real time” (waktu yang sebenarnya).
Menurut Chun (2006) new media merupakan penyederhanaan istilah (simplikasi)
terhadap bentuk media di luar dari pada lima media massa konvensional; televise, radio,
majalah, koran, dan film. Karena sifat dari new media sendiri yaitu cair (fluids) yang bermakna
mengalir dengan sendirinya, konektivitas yang individual, serta menjadi sebagai sarana untuk
membagi peran kontrol dan kebebasan. New media merujuk pada perkembangan teknologi
digital, akan tetapi new media sendiri tidak diartikan sebagai media digital.
New media yang merujuk pada perkembangan digital ini terdapat pada salah satu unsur
dalam new media yakni pada sisi teknologi multimedianya, walaupun video, teks, gambar,
grafik yang diubah tersebut menjadi data-data digital berbentuk byte.
Munculnya media online dianggap sebagai media pencerahan di tengah terpuruknya
jurnalisme di media-media konvensional, di samping karena saat ini juga merupakan masanya.
Namun, media online acapkali mengabaikan kelengkapan dan mengorbankan akurasi demi
kecepatan dalam penyampaian informasi. Sehingga kebenaran informasi (jurnalistik) yang
disampaikan semakin tidak terjangkau dengan rutinitas yang serba cepat tersebut. Belum lagi
media yang informasinya bersifat sensasionalisme dan trivialisasi. Trivialisasi adalah kondisi
dimana yang seharusnya menginformasikan hal-hal yang bersifat public, justru dipenuhi
dengan hal-hal remeh (trivial) yang salah satu contohnya seperti gosip tentang selebriti (Alan
McKee, 2005). Bahkan yang seperti ini pernah dilakukan oleh media-media online yang sudah
mapan.
Perubahan praktik jurnalistik media online berbeda dengan perubahan jurnalistik media
konvensional, yang mengakibatkan kuantitas informasi yang disampaikan dan disebarkan
berlimpah ruah. Sehingga memerlukan beberapa pemahaman ulang mengenai tanggapan dari
penerima dalam menyikapi informasi atau berita. Hal tersebut menjadi pengantar sebagai
bahan perenung untuk pihak terkait khususnya media agar tujuannya lebih terarah dan sesuai
harapan, yakni dengan merenungkan bagaimana membangun jurnalisme yang baik (good
journalism) dan jurnalisme yang berkualitas (quality).
Dalam penelitian pada umumnya mengatakan bahwa tingkat kepercayaan public
terhadap informasi yang diterbitkan media online sama halnya dengan mediamedia lainnya.
Namun kredibilitas media online acapkali menurun dari sisi akurasi atau ketepatan dalam
menyampaikan fakta di lapangan. Aran dan Anderson (2001) pernah menemukan bahwa
hampir setengah editor media online mengaku punya sedikit waktu untuk memverifiksai